Dalam kehidupan sehari-hari, telepon seluler adalah benda yang paling sering berada di dekat kita. Tidak hanya dekat, telepon seluler juga menyedot sebagian besar perhatianmu. Perhatian kita—yang sudah sangat sedikit itu, ternyata masih bisa teralihkan oleh ikon bundar notifikasi yang ada di pojok ikon aplikasi. Atau ikon-ikon kecil notifikasi pada layar seluler. Miris!

Tulisan ini adalah salah satu dari tulisan-tulisan saya tentang upaya mengambil alih kembali kendali dalam menggunakan telepon seluler. Di mana saya tidak lagi merasa kewalahan dan lelah oleh aplikasi-aplikasi yang saya gunakan.

Sebagai gambaran, ada empat aplikasi media sosial, enam aplikasi chat, tiga aplikasi dompet elektronik, lima aplikasi e-dagang, dan sembilan aplikasi keuangan yang saya gunakan.

"Oke! Empat medsos terlalu banyak", pikir saya. Sudah saatnya memutuskan untuk memilih salah satu untuk dijadikan primadona. Kemudian saya menjajarkan semua aplikasi media sosial dalam satu folder:

  1. Facebook
  2. Twitter
  3. Instagram
  4. LinkedIn

"Jika saya hanya punya waktu 2 jam dalam sehari untuk bercengkerama di medsos, aplikasi mana kah yang memberikan manfaat paling banyak bagi saya?", pikir saya.

Twitter ternyata paling bermanfaat bagi saya karena saya mengikuti orang-orang yang saya anggap menarik. Baik dari segi hobi maupun profesi. Cuitan orang di Twitter juga terlihat lebih berbobot daripada di Facebook. Mungkin karena batasan 280 karakter membuat orang berpikir lebih keras untuk menggaet perhatian pengikutnya.

Ternyata lama juga, ya, saya berada di Twitter. Lebih dari 11 tahun! Walaupun sudah selama itu, jumlah pengikutnya tidak signifikan, hehe. Boleh, dong, di-follow 🤣.

LinkedIn cukup berguna bagi saya. Sesekali saya periksa untuk melihat permintaan baru sebagai koneksi atau untuk membalas pesan dari kotak masuk. Mempertahankan eksistensi di dalam medsos bursa kerja saya rasa perlu untuk melihat apakah ada yang tertarik untuk bekerja dengan saya. Ada yang tertarik? 😎

Screenshot-2019-07-07-at-08.41.42

Saya memutuskan untuk non-aktif dari Facebook 😅 pada tanggal 28 Maret 2018. Awalnya saya ingin melepaskan ikatan saya sepenuhnya 😅 karena ini dan yang terpanas akhir-akhir ini. namun akun saya telanjur terkoneksi dengan akun pengembang Facebook untuk kantor. Akun saya juga terkoneksi dengan sebagian besar teman dan anggota keluarga. Itulah seramnya media sosial, mereka sudah mengikat terlalu erat, tak bisa lepas begitu saja. Bahkan sampai mati pun akan tetap eksis 💀.

Upaya maksimal yang bisa saya lakukan hanya menonaktifkan akun. Tak lupa juga saya lepaskan puluhan aplikasi pihak ketiga yang terhubung pada akun tersebut. Agar tidak disalahgunakan, saya aktifkan tambahan pengamanan 2FA.

Kemudian pada bulan April tahun ini, selepas dari memasang foto-foto RubyKaigi, saya memutuskan untuk non-aktif juga dari Instagram.

Namun perlakuan saya untuk Instagram berbeda dengan Facebook. Saya tetap menggunakannya, hanya saja saya non-aktif untuk membuat konten baru. Saya menikmati Story, foto dan video dari orang yang saya ikuti. Tapi saya tidak berminat untuk posting di Instagram. Selain karena pengikut saya jumlahnya sedikit 😅, saya meyakini bahwa foto-foto di Twitter saat ini lebih menarik. Bisa dibuat utas, 4 foto dalam satu cuitan, dan bisa di-edit juga layaknya Instagram. Foto saya di Instagram tidak nampak lebih bernilai, mending fokus pada satu medsos saja. Namun demikian, sebenarnya saya ingin sekali Instagram terbebas dari belenggu Facebook.

Twitter sebagai primadona media sosial

Twitter akhirnya menjadi primadona media sosial versi saya. Saya menonaktifkan notifikasi yang muncul dari aplikasi medsos lain. Hasilnya saya merasa lebih memegang kendali, semakin jarang mengecek timeline sehingga lebih fokus.

Jika kamu memutuskan untuk memilih satu media sosial saja, mana yang akan kamu pilih? Dan mengapa? Silakan sebut saya di Twitter dengan menautkan tulisan ini ☺️.


Thanks to @Jonflobrant for making this photo available freely on @unsplash 🎁 https://unsplash.com/photos/Cg9QlLuX120