Perjalanan 7 tahun dalam membuat “memasak jadi lebih menyenangkan”, dilihat dari perspektif yang ngoding

Laptop, teh kotak, dan penanak nasi

Terjun bebas ke dunia rintisan, namun dengan jaring pengaman

Kisah ini berawal dari tahun 2010, ketika kami membangun perusahaan rintisan bernama Sedapur. Saya memutuskan berhenti dari pekerjaan saya sebagai desainer web di Detik untuk membangunnya bersama rekan satu SMA. Kami sudah berkenalan daring selama lebih dari empat tahun, mengerjakan proyek situs web bersama-sama, namun baru bertemu luring satu kali. Itu juga kali pertama saya bertemu dengan adik dan iparnya, yang ternyata turut berkecimpung di perusahaan rintisan ini 😄.

Kehidupan saya saat itu cukup baik. Hidup di kos area Warung Buncit dengan moda transportasi pribadi berupa sepeda motor bebek. Saya patut bersyukur karena secara finansial terlindungi karena digaji bulanan secara rutin. Saya baru menyadari setelah beberapa tahun ke depan, bahwa memperoleh gaji yang rutin di sebuah perusahaan rintisan itu adalah sesuatu yang patut disyukuri. Sandang, pangan dan papan tersedia.

Ternyata tidak semua orang seberuntung saya.

Menggerakkan bisnis kuliner dari rumah

Apa yang ingin kamu berikan untuk Indonesia?

Singkat cerita, Sedapur adalah bisnis yang dilahirkan dari buah percakapan antara rekan saya dan adiknya. Berawal dari pengalaman sang adik menjadi relawan untuk membantu ibu-ibu dari keluarga tidak mampu supaya bisa berdikari membelikan anak mereka sekotak susu. Kemudian berlanjut ke pertanyaan sang kakak “Apa yang ingin kamu berikan untuk Indonesia?”. Sungguh percakapan berat yang saya tidak bisa bayangkan terjadi di keluarga saya 😅.

Sedapur lahir untuk menjawab pertanyaan ini dengan bentuk e-niaga tipe pasar (C2C) yang fokus menjual produk kuliner dari bisnis rumahan.

Sempat memenangkan dua perlombaan bergengsi di tahun 2011, namun kami memutuskan untuk mengakhirinya untuk beralih fokus ke DapurMasak.

Belajar dari nol

Saat itu keseharian Sedapur berlangsung biasa saja, tidak ada peningkatan. Tentunya ini patut dikhawatirkan, karena sebuah Startup harus selalu bertumbuh 📈. Inilah yang mendasari kami untuk mencoba model bisnis alternatif.

Saat itu saya sudah memiliki sedikit keterampilan menggunakan WordPress. Pernah membuat dua buah situs dengan tema WordPress sendiri. Inilah yang mendorong saya untuk belajar membuat situs dari nol. Tentunya tumpukan teknologi yang saya gunakan tak jauh dari PHP. Menggunakan tumpukan LAMP pada umumnya: PHP dengan CodeIgniter, Apache, MySQL, di atas Linux.

Alhasil kami membuat dua purwarupa:

  • Recipelary: pencarian resep
  • DapurMasak: media sosial untuk berbagi resep

Tidak banyak yang bisa saya sampaikan untuk Recipelary. Ini hanya sebuah situs yang mengumpulkan (agregat) resep dari bermacam-macam situs sehingga mudah dicari. Tentunya siapapun bisa mencoba melawan Google dari sisi pencarian 😂 untuk belajar menerima kenyataan.

Kenapa Resep?

Sebagai perusahaan rintisan tanpa modal besar 😉, salah satu cara murah untuk mencari model bisnis adalah dengan melihat bisnis serupa yang sudah berhasil di luar negeri. Barangkali ada model bisnis yang cocok namun belum ada di dalam negeri. Menjadi yang pertama biasanya merupakan keuntungan kompetitif, kita bisa menjadi brand yang pertama diingat orang. Karena rekan saya tinggal di Jepang, maka banyak referensi yang diambil dari sana. Amati, Tiru, dan Modifikasi.

Perhatian kami tertuju pada sebuah website resep yang sudah IPO (wow 👀!). Website yang beroperasi sejak 1997 ini menguasai ceruk pasar di Jepang dengan persentase 80% pengguna internet wanita. Website itu adalah Cookpad.com.

Kami saat itu masih berpikir bahwa purwarupa ini dapat mendukung misi yang kami emban di Sedapur. Namun tidak terpikirkan oleh kami ternyata misi yang diemban oleh Cookpad itu jauh lebih besar , lebih umum, dan mengglobal:

Membuat memasak sehari-hari jadi menyenangkan

Berawal dari pecel ala anak kos

Dengan piranti masak ala kadarnya, istri saya mengukus sayuran yang kami beli dari pasar dekat kos. Sedangkan saya membeli bumbu pecel dan abon sapi dari minimarket terdekat

DapurMasak dibangun sejak November 2011. Kondisi kami saat itu: bekerja di mezzanine (separuh lantai) Wisma Lumbini di Cideng. Sedangkan saya masih ngekos bersama istri di Karet Setiabudi. Sepeda motor bebek berusia 9 tahun itu masih setia menemani 🦆. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hidup berkeluarga di Jakarta itu sulit jika mengandalkan satu sumber penghasilan, oleh karena itu istri juga turut bekerja (di perusahaan berbeda).

Saat itu, purwarupa DapurMasak sudah jadi dengan satu fitur utama: penulisan resep. Namun ada satu masalah besar. Saya tidak punya resep 🤣.

Dengan piranti masak ala kadarnya, istri saya mengukus sayuran yang kami beli dari pasar dekat kos. Sedangkan saya membeli bumbu pecel dan abon sapi dari minimarket terdekat. Jadilah resep nomor urut satu (dulunya dapurmasak.com/recipes/1) di DapurMasak:

Bisa dicoba di kosan 👍

Ujicoba fitur sukses dan hasilnya langsung disantap 😋. Bagi pecinta pedas, saya juga menerbitkan resep Pelecing Kangkung khas Lombok 🌶🤣.

Mengundang Pengguna Pertama

Sebagai pengembang aplikasi, saya menyadari bahwa pengguna tidak datang dengan sendirinya. Butuh waktu supaya mereka dapat merasakan pengalaman yang berkesan. Oleh karena itu, saya membatasi diri untuk menambah fitur dan menyegerakan rilis versi beta yang terbatas untuk orang tertentu. Waktu satu bulan saya rasa sudah cukup untuk mulai tes, termasuk waktu perencanaan.

Seperti cerita-cerita perusahaan rintisan lainnya, teman dan keluarga adalah orang-orang pertama yang mau mencicipi DapurMasak 😋.

Setelah menggali-gali arsip surel, saya berhasil menemukan surel yang saya kirim untuk mengundang pengguna pertama DapurMasak 🤗. Pada saat itu saya memberinya judul “Social Media Baru”, karena “situs berbagi resep” itu masih cukup asing didengar (sekarang juga sih, ini merupakan pekerjaan rumah buat kami).

Saya lebih banyak penekanan di kemudahan dan keteraturan / kerapihan, sebuah masalah yang saya asumsikan cukup mengganggu di kalangan blogger kuliner. Semakin teratur penulisannya, maka resep akan semakin mudah untuk dicari.

Berikut ini surelnya:

Tiga bulan kemudian, dengan berbekal 20 pengguna dan menambahkan beberapa fitur, saya memberanikan diri untuk membukanya ke publik. Berbeda dengan undangan sebelumnya, ada lebih banyak hal yang bisa saya jelaskan pada surel ini. Mulai dari fitur sampai dengan benefit seperti hadiah. Tapi sebagian besar bergabung untuk mendapatkan teman yang suka masak atau ingin belajar memasak 😊.

Takut canggung dalam berkomunikasi 😄😉👍

Walaupun saya punya pengalaman sebagai desainer web yang sering berkomunikasi dengan klien, saya juga masih takut-takut untuk berkomunikasi secara lisan. Namun lebih takut lagi jika tidak ada yang menggunakan produk ini 😅. Saya tahu ini bukanlah tugas saya dan tidak tertulis di uraian pekerjaan. Tapi saya sadar bahwa kami masih dalam fase awal. Setiap usaha, walau sekecil apapun, dapat membuahkan hasil. Itulah mengapa banyak orang bergabung ke dalam perusahaan rintisan.

Bisa diperhatikan dari surel di atas bagaimana saya banyak menggunakan emoji (bagi yang belum tahu, dulu GMail emojinya berupa gambar, bukan bagian dari karakter unicode). Ini saya lakukan karena saya takut maksud dan emosi saya tidak tersampaikan. Saya ingin tulisan tersebut mampu mencitrakan DapurMasak sebagai produk yang menyenangkan dan ramah. Dan itu, menurut saya, sulit dicerna dari tulisan saja.

Titik balik yang berujung pada akuisisi

Ada sebuah momen di mana kami merasakan perlunya modal lebih banyak untuk pengembangan yang lebih jauh (dan besar). Momen tersebut juga yang menyebabkan rekan saya memilih Cookpad sebagai pilihan terbaik untuk menerima investasi.

Namun bukan saya yang akan menceritakannya di sini 😊. Silakan membaca ulasan wawancara dengan rekan saya Soegianto (CEO Cookpad Indonesia) untuk menggambarkan suasana pada saat itu:

Jatuh bangun Soegianto Widjaya kembangkan Cookpad
Siang itu, matahari bersinar nan terik menyengat kulit. Namun memasuki SOHO ( small office home office) di bilangan…peluangusaha.kontan.co.id

Menyambung cerita di atas, pada masa itu saya juga sedang mengalami dilema antara terjun penuh untuk mengembangkan DapurMasak atau hanya mendukung di paruh waktu. Karena tidak banyak yang tahu tentang Cookpad dan apakah Cookpad masih akan ada selama 5 tahun ke depan. Untuk meyakinkan keluarga, saya membutuhkan argumen yang sangat kuat. Tapi rekan saya cukup pintar dengan melibatkan saya ke dalam percakapan akuisisi dalam surel dengan para pendiri Cookpad. Hanya butuh satu balasan saja dari beliau untuk membuat saya yakin bahwa akuisisi ini jadi 100%:

Yes let’s get this done.

Mungkin kalau saya jadi investor bakal irit ngomong seperti ini juga 🤣.

Inilah momen dimulainya perjalanan kami di Cookpad.


Diawali dengan bergerak sendiri

Di awal akuisisi kami diberikan kebebasan untuk bergerak sendiri hanya dengan dukungan finansial. Dalam tiga bulan pertama kami berusaha berkembang dengan cara menambahkan beberapa personil untuk pengembangan web dan komunitas. Saat itu saya sudah migrasi dari VPS hosting ke cloud hosting dengan menggunakan AWS, sehingga problematika kenaikan trafik di bulan Ramadan sudah bisa diantisipasi dengan mudah.

Namun bulan demi bulan berlalu tanpa perkembangan yang berarti. Kami menambahkan fitur seperti kontes yang bisa menaikkan jumlah resep, namun tidak menimpulkan dampak yang signifikan dan berkesinambungan. Di saat itu kami masih menggunakan pola pengembangan yang sama seperti saat kami membuat DapurMasak: coba-coba saja siapa tahu berhasil.

Hasilnya, fitur demi fitur dibuat tanpa ada evaluasi dan tidak menghasilkan peningkatan pengguna yang berarti. Ini terdengar seperti contoh kasus di buku-buku best-seller bisnis, bukan?

DapurMasak di Rails!

Mengubah DapurMasak dari PHP ke Ruby adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kami buat. Saya bahkan menulis artikel khusus mengenai itu di sini:

Achievements Unlocked di tahun 2014
Belajar Rubydidik.id

Singkatnya, kami mulai mendapat dukungan penuh dari kantor pusat baik dari segi teknologi maupun metode pengembangan bisnis. Berada di Ruby on Rails dan menerapkan Continuous Delivery membuat kami bisa bergerak dengan cepat, melakukan satu atau dua kali rilis ke lingkungan produksi setiap minggunya. Bagaimana dengan sekarang? Rilis beberapa kali setiap hari 😉.

Kejadian yang paling berkesan terjadi ketika CTO Cookpad Jepang sedang berkunjung ke Indonesia. Dia bertanya “Apa yang bisa saya bantu selagi ada di sini?”. Ceritanya dia memang ditugaskan untuk promosi Cookpad. Saya saat itu menjawab: spam dan pencarian.

Dalam satu mobil di perjalanan ke Bandung ia menambahkan spam filter dengan Naive Bayes. Dan beberapa jam sebelum meetup Ruby, dia menambahkan ElasticSearch di DapurMasak. Sesuatu yang saat ini sudah biasa didengar oleh pujangga teknologi masa kini namun terdengar istimewa bagi saya saat itu.

Lagi error ceritanya

Kami bertumbuh dengan cepat, bahkan lebih dari dua kali lipat! Tetapi…

Pertumbuhannya masih kurang cepat.

Satu basis kode untuk semua

Beberapa bulan sejak DapurMasak diakuisisi, Cookpad melanjutkan dengan akuisisi-akuisisi berikutnya. Selain Indonesia, pada saat itu Cookpad mengakuisisi di Amerika dan Spanyol. Tim global pun mulai dibentuk, dengan tugas pertamanya yakni membuat satu aplikasi yang mampu menaungi semua negara.

Ingat beberapa paragraf sebelumnya di mana kita mengembangkan banyak fitur setiap minggunya 👆? Setelah kami migrasi data ke aplikasi yang baru, semua fitur-fitur yang kita buat lenyap dan dirampingkan. Ibarat kata kita kembali lagi dari nol 🌬. Duh!

Namun justru disitulah letak kekuatannya 😎.

Dengan menyatukan semua situs yang diakuisisi oleh Cookpad, kita menyatukan dua hal penting:

  1. Basis data
    Satu basis data berarti setiap data resep dari masing-masing negara terstandarisasi. Ini juga berarti tenaga yang dulunya terpisah-pisah membangun aplikasi sendiri-sendiri kini bersatu untuk membangun sebuah aplikasi global. Terjadi banyak transfer sumber daya manusia, dari Jepang ke Spanyol ke Amerika hingga akhirnya ke markas saat ini di Inggris.
  2. Domain
    Cookpad.com itu posisinya tinggi sekali di mesin pencarian di Jepang, sehingga sayang apabila tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan SEO di negara-negara lain. Cukup terasa manfaatnya sekarang. Setiap masakan yang dicari di Indonesia pasti akan menemukan Cookpad.

Berkat penyatuan ini, Cookpad di akhir tahun 2018 sudah ada di 71 negara dengan 25 bahasa. Dan Cookpad Indonesia tumbuh 5 kali lipat di tahun 2015. Ini membawa Indonesia menjadi negara-pengguna-Cookpad terbesar kedua setelah Jepang.

Sudah bukan lagi aplikasi anak kos

Saya banyak belajar mengenai komunikasi, terutama mengenai cara menyampaikan pesan dan berempati.
Yang sering nyampah (++), jangan lupa diimbangi dengan bersih-bersih (--)

Ya, saya sudah tidak lagi nge-kos. Sekarang saya tinggal di rumah bersama keluarga. Yang tadinya naik sepeda motor, sekarang naik KRL (nah, lho?). Yang tadinya bekerja untuk Indonesia, kini bekerja untuk dunia juga. Yang tadinya hanya 100.000 menjadi 10.000.000 pengunjung per bulan. Ini jauh lebih tinggi dari angka yang saya antisipasi sebelumnya, sehingga saya pun mesti siap juga untuk berkembang.

Walaupun profesi saya adalah pengembang perangkat lunak, satu hal paling berharga yang saya pelajari dari 7 tahun mengembangkan Cookpad justru bukan hal teknis. Saya banyak belajar mengenai komunikasi, terutama mengenai cara menyampaikan pesan dan berempati. Termasuk berbagi ilmu di dalam komunitas.