Karena pandemi setiap orang mesti berhati-hati dengan pengeluaran mereka. Tidak sedikit yang harus dirumahkan. Membuat keadaan keuangan jadi semakin genting.

Bagi yang masih bisa bertahan pada pekerjaannya, bersyukurlah karena kantor tempat kalian bekerja sedikit terdampak dalam arus penciutan ekonomi. Namun pada akhirnya, its every man for himself, yang menjadi penentu apakah seseorang atau suatu keluarga bisa bertahan adalah diri mereka sendiri. Ini berarti mereka mempunyai ketahanan keuangan yang cukup kuat.

Keran pendapatan semakin menipis 🚰

Sebagaimana perekonomian bekerja, pendapatan yang kita terima setiap bulan dari kantor itu karena roda perekonomian yang masih berjalan. Masih ada kegiatan transaksi jual dan beli. Namun apabila perekonomian melesu dengan sedikitnya orang berbelanja, maka semakin sedikit pula pendapatan sebuah usaha. Jadi pendapatan yang kita terima sangat bergantung pada kondisi perekonomian yang sehat. Kini, keran pendapatan itu semakin menipis.

Pengeluaran semakin tak terkendali 💥

Hidup di zona merah membuat kegiatan belanja bulanan yang biasa dilakukan dengan datang ke pusat perbelanjaan semakin terbatas. Secara sekilas nampaknya hidup kita akan semakin hemat, nih 😊. Salah besar 🤣. Dengan beralihnya kegiatan belanja bulanan ke ranah daring (online), membuat pengeluaran semakin tidak terkendali 💥. Belanja daring lebih mudah dilakukan. Seringkali terlalu mudah. Ini wajar, karena e-commerce memang didesain untuk itu.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan pengeluaran ini? Berikut ini saya bagikan tips yang lumayan bermanfaat bagi saya pribadi.


Pisahkan antara pengeluaran rutin (tetap) dengan pengeluaran tidak rutin (fleksibel)

Pengeluaran rutin itu umumnya jumlahnya jarang berubah, cenderung tetap. Misalnya:

  • Langganan Internet & TV Kabel (biasanya berbarengan)
  • Premi Asuransi
  • Cicilan rumah atau kendaraan bermotor
  • Listrik, kalau menggunakan prabayar pemakaiannya bisa lebih terkendali 😄

Saya biasanya tidak akan mengutak-utik lagi uang yang ditujukan untuk pengeluaran di atas. Resikonya tinggi sekali apabila satu pembayaran bisa terlewatkan.

Apa saja pengeluaran tak rutin?

  • Belanja kebutuhan bulanan, mingguan, atau harian
  • Keperluan medis
  • Belanja rekreasi
  • Makan di luar (atau beli makanan dengan ojol karena pandemi)

Dengan memisahkan ke dua kategori ini, kita bisa mengetahui dengan jelas berapa jumlah yang bisa kita belanjakan sewaktu-waktu.

Pembagian keuangan pribadi saya menggunakan aplikasi YNAB

Kendalikan budget pengeluaran rutin

Jika kita punya budget Rp 10.000.000 untuk segala pengeluaran (sudah dikurangi tabungan), pastikan tidak lebih dari 50% habis untuk pengeluaran tetap. Supaya masih bisa mengalokasikan untuk pengeluaran tak rutin yang tak terduga.

Harapannya, jika masih ada sisa pengeluaran di akhir bulan atau bumper, maka sisa uang tersebut bisa membantu kita untuk mengarungi bulan berikutnya.

Jangan menaruh sisa pengeluaran ke dalam tabungan untuk bulan berikutnya. Jika pengeluaran bulan berikutnya lebih besar, maka kalian harus mengambil uang dari tabungan tersebut. Ini akan merugikan dari sisi mental, karena merasa diri kita tidak bisa menjaga diri dalam mengelola keuangan. Sebaliknya, taruhlah sisa pengeluaran tersebut ke dalam budget pengeluaran bulan berikutnya. Artinya kalian punya cadangan yang lebih banyak untuk belanja. Siapa yang tidak suka belanja lebih banyak? 😉

Buat jadwal untuk pengeluaran rutin

Dari pengeluaran rutin di atas, buatlah jadwal pada kalender elektronik kalian untuk melakukan pembayaran. Misalnya:

  • Langganan Internet & TV Kabel – tanggal 15 – Rp 700.000
  • Premi Asuransi – tanggal 1 – Rp 2.000.000
  • Cicilan – tanggal 28 – Rp 1.500.000
  • Listrik prabayar – kira-kira tanggal 10 – Rp 500.000
    Jika kurang dari itu, maka boros, jika lebih maka hemat 🎉

Dari ilustrasi di atas, total Rp 4,7 juta tidak boleh diutak-atik dan disimpan dalam kalender.

Sederhanakan entri pengeluaran dengan mengkategorikan tempat belanja

Dulu saya sering terperangkap pada situasi ini: semua transaksi harus direkam. Dalam sebulan ada lebih dari 10 kali transaksi belanja di minimarket. Walaupun akurat, transaksi-transaksi ini tidak memberikan nilai tambah yang berarti karena nominalnya tidak signifikan. Artinya, seakurat apapun saya mencatatnya, nilainya tidak lebih dari, misalnya Rp 500 ribu

Percayalah, kamu bisa merelakan transaksi terlewat Rp 50-100 ribu. Yang harus kamu perhatikan baik-baik adalah transaksi besar atau yang frekuensinya tak menentu. Transaksi besar misalnya:

  • servis motor/mobil ke bengkel, jika terjadi kerusakan, jumlahnya fantastis
  • beli furnitur
  • unduh musik latar untuk podcast (haha, saya baru tau ternyata mahal juga)

Metode penyederhanaannya bisa demikian:

  • tanggal 1, belanja di Indomaret Rp 30.000
  • tanggal 2, belanja di Alfamart Rp 35.000
  • dst...

Disingkat menjadi: belanja September di minimarket Rp 430 ribu. Thats it! Penting untuk mencegah diri kita menjadi burnout karena terlalu banyak mencatat.


Bagaimana menurutmu dengan tips di atas? Punya tips menarik untuk mencatat pengeluaran? Silakan bahas di komentar di bawah ini 🤗