Perjalanan selalu dimulai dengan rasa kekaguman dan penasaran

Dari dulu saya selalu terkesima dengan HTML.

Bayangkan bagaimana kita bisa menaruh teks, paragraf, tabel, gambar, bahkan running text (baca: <marquee>) ke dalam sebuah dokumen. Minat tersebut membuat saya dipercaya untuk membuat website untuk angkatan saya di SMA.

Ketika kuliah, saya terkesima dengan CSS.

Saya bisa menaruh glitter di profil ini

Bagi teman-teman yang masih muda, sebelum Facebook ada sebuah website yang sangat digandrungi muda-mudi di masa itu. Website itu bernama Friendster (sorry, MySpace). Salah satu penyebab viralnya Friendster adalah setiap orang bisa menghias halaman profil mereka sendiri. Sehingga CSS adalah pengetahuan wajib dimiliki oleh saya. Mengutak-atik template adalah kesibukan sehari-hari di lab komputer. Selain mengunduh MP3 tentunya.

Program pertama yang saya buat dan menghasilkan uang adalah sebuah slide PowerPoint.

Seorang teman mengetahui saya gemar membuat animasi pada saat presentasi kuliah. Hal ini didengar oleh rekan kerjanya yang meminta saya untuk membuat slide animasi untuk sebuah klub eksekutif di Cikarang. Saya membuat animasi berkesinambungan berdurasi 20 menit disimpan sebagai executable file yang langsung mulai berjalan sendiri ketika dibuka. Itulah Rp 100.000 pertama saya dari pemrograman.

Program kedua yang saya buat adalah sebuah aplikasi untuk memasukkan jurnal untuk kepentingan akuntansi. Dalam MS Access.

Ketika periode magang, supervisor saya mengetahui bahwa saya bisa menggunakan MS Access. Beliau bertanya apakah saya bisa membuat program ERP. Yang namanya mahasiswa itu memang seringkali optimis, tentu saja saya sanggupi. Meski akhirnya hanya satu modul yang jadi, yaitu entri jurnal. Program ini tentunya tidak dapat dipakai di perusahaan tempat saya magang. Namun ternyata supervisor saya juga bekerja di sebuah pabrik pembentukan suku cadang di Bantar Gebang. Aplikasi saya terpakai di sana. Dihargai sebesar Rp 2.500.000.

Menjelang kelulusan S1 saya memutuskan untuk melamar kerja.

Bukan, bukan sebagai pemrogram. Namun sebagai Desainer Web. Ternyata Friendster lebih membekas di hati saya. Saya pun mulai bekerja sebagai Desainer Web di Detik.com. Gaji pertama saya adalah standar gaji UMR kala itu. Cukup banyak untuk seorang mahasiswa, tapi tidak cukup banyak untuk membeli sebuah laptop MacBook Pro (ya, iya lah!).

Setelah skripsi yang tertunda selama 3 bulan karena fokus terhadap pekerjaan, akhirnya saya mendapat gelar Sarjana Ekonomi di President University (super ga nyambung).

Oke, mari kita fokus terhadap karir di pemrograman.


Platform blog semilyar umat

Selama bekerja di Detik, saya memiliki banyak waktu luang. Detik membebaskan karyawannya untuk tinggal di kantor. Bahkan ada shower untuk mandi di kantor. Jadi kalau belum berkeluarga sebenarnya tidak perlu pulang ke kos. Waktu luang yang banyak inilah yang saya gunakan untuk belajar pemrograman web. Dimulai dari membuat template WordPress.

Saya sempat aktif mengelola website dengan WordPress.

Netsains dan Chem-is-try adalah salah duanya. Pengalaman ini pun membawa saya ke ranah startup. Startup pertama yang saya bangun bernama Sedapur. Saya pun resign dari Detik, berbekal pengalaman mendesain web dan sepercik PHP.

Singkat cerita, Sedapur tidak berhasil.

. Aku padamu, mas.

Seorang rekan saya kemudian bertanya apakah saya bisa membuat website seperti website X dari Jepang. Website ini sangat terkenal di sana dan sudah IPO. Saya pun menyanggupi dan mulai belajar CodeIgniter. Karena saya yakin, membuat website ini dalam WordPress sama dengan mencari perkara. Kami beri nama website ini DapurMasak.

Singkat cerita, DapurMasak melejit dengan gemilang di kalangan ibu rumah tangga.

Sembari membangun, saya belajar bahwa dunia pemrograman web ini tak lepas dari sistem operasi Linux. Karena kebetulan saya pakai Mac, jadi masih ada hubungan kekerabatan jauh. Maka belajarlah saya cara konfigurasi server. Saya mendengar rekomendasi dari teman bahwa kalau mau buat bisnis yang serius, maka taruhlah di AWS. Untung rekomendasinya tepat. Kebetulan kala itu (2011) hosting lokal masih kurang mumpuni, tidak seperti sekarang. Sampai saat itu, saya sudah mengantongi kemampuan membuat website dengan PHP dan MySQL.

Singkat cerita, DapurMasak diakuisisi oleh Cookpad (website X). Beserta saya di dalamnya.

Saya dan rekan kerja saya akhirnya mulai mempelajari Ruby dan Ruby on Rails. Kami terkesima setelah mempelajari Ruby. Tidak menyangka sebuah bahasa pemrograman bisa membuat seseorang begitu menggemari ngoding sembari menjadi lebih produktif.

Selain Ruby, kami pun mempelajari ElasticSearch, Redis, React, Docker, dan lain-lain. Rekan saya akhirnya bergelut di Android dan Kotlin. Konon kami masih belajar hingga sekarang. Tentunya dengan gaji di atas UMR.

Demikian perjalanan saya sebagai seorang pemrogram komputer hingga saat ini. Perjalanan ini masih berlanjut.

Tulisan ini pertama tampil di Quora dengan sedikit modifikasi. Baru menyadari setelah dipublikasikan bahwa jawaban tersebut ternyata cukup panjang dan cocok untuk dijadikan tulisan di blog.